Contoh teks wawancara menggunakan prinsip 5W + 1H

Sebuah teks wawancara yang baik, setidaknya mengandung usur-unsur 5W + 1H. Apa itu 5W + 1H? Perhatikan penjabarannya berikut ini!

5W + 1H adalah sebuah singkatan dari
1. What (apa)?
2. Who (siapa)?
3. Where (dimana)?
4. When (kapan)?
5. Why (mengapa)?
6. How (bagaimana)?

Sebuah informasi yang didapatkan dari hasil wawancara setidaknya mengandung 6 unsur di atas, dan unsur-unsur tersebut sampai sekarang masih digunakan dalam prinsip penulisan berita baik di koran, surat kabar, pesan singkat dan berita lainnya.

Contoh teks wawancara

Dalam contoh teks wawancara, setiap teks akan sangat beragam sesui dengan tema yang diangkat, namun secara konten atau isi tetap mengacu pada 6 prinsip di atas yaitu 5 W + 1H.

Berikut ini adalah contoh teks wawancara yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

1. Contoh teks wawancara singkat dengan Polisi

Saeful : “Selamat pagi, Pak.”

Pak Gunawan: “Selamat pagi.”

Saeful: “Nama saya Saeful, Pak. Bolehkah saya tahu nama Bapak?”

Pak Gunawan : “Tentu saja boleh. Saya Pak Gunawan .”

Saeful: “Saya ingin bertanya tentang aturan lalu lintas. Aturan lalu lintas itu contohnya apa saja, Pak?”

Pak Gunawan: “Contoh aturan lalu lintas banyak sekali. Contohnya antara lain pengemudi kendaraan bermotor harus mempunyai surat izin mengemudi (SIM), pengendara sepeda engine harus memakai helm, menaati lampu lalu lintas, dan menaati rambu-rambu lalu lintas. Apabila adik akan menyeberang jalan harus melalui tempat penyeberangan jalan seperti jembatan penyeberangan dan zebra cross.”

Saeful: “Lalu, apa fungsi dari aturan lalu lintas itu, Pak?”

Pak Gunawan: “Fungsinya untuk mengatur pengguna jalan raya. Supaya lalu lintas di jalan raya menjadi tertib dan teratur. Apabila tidak ada aturan lalu lintas, orang pasti akan berbuat semaunya. Akibatnya lalu lintas menjadi macet. Selain itu juga akan terjadi banyak kecelakaan. Jadi, aturan lalu lintas juga untuk menjaga keselamatan pengguna jalan itu sendiri.”

Saeful: “Jadi semua orang harus mematuhi aturan lalu lintas ya, Pak?”

Pak Gunawan: “Betul sekali.”

Saeful: “Terima kasih, Pak,atas penjelasannya. Sekarang saya tahu pentingnya aturan lalu lintas.”

Pak Gunawan: “Terima kasih kembali. Hati-hati di jalan raya, ya!”

Saeful: “Baik, Pak.”

Contoh Teks Wawancara

2. Contoh teks wawancara tentang pendidikan

Saya       : “Selamat sore pak?”

Narasumber : “Selamat sore juga. Ada yang bisa saya bantu?”

Saya              : “Apa boleh saya mewawancarai Anda?”

Narasumber : “Ya, boleh silahkan.”

Saya              : “Perkenalkan saya Ahmad Fatoni, siswa dari SMA Negeri 2 Bandarlampung. Saya ingin mewawancarai anda mengenai Perpustakaan Kota di Bandarlampung. Saya mulai pertanyaan pertama, menurut Anda bagaimana keadaan perpustakaan kota di Bandarlampung saat ini?”

Narasumber : “Bisa dibilang lebih maju. Kualitasnya sudah mulai diperbaiki. Koleksi-koleksi bukunya pun saat ini sudah mengikuti perkembangan zaman.”

Saya              : “Sebenarnya seberapa penting perbaikan kualitasnya?”

Narasumber : “Bagi perpustakaan yang benar-benar berorientasi pada pendidikan sangat penting. Ini untuk mendorong minat baca masyarakat.”

Saya              : “Buku apa yang paling menarik minat baca masyarakat menurut Anda?”

Narasumber : “Yang saya ketahui masyarakat terutama generasi muda lebih berminat pada buku cerita.”

Saya              : “Mengapa buku cerita menjadi penarik minat pertama para pembaca?”

Narasumber : “Karena mungkin berhubungan dengan orientasi pendidikan sekarang yang dirasa membosankan. Jadi pendidikan saat ini seharusnya tidak sekedar mencari pengetahuan semata, namun juga yang meningkatkan minat baca.”

Saya              : “Siapakah yang seharusnya bertanggung jawab untuk mengubah minat baca dari buku cerita ke buku pengetahuan?”

Narasumber : “Menurut saya pihak keluargalah yang utama dan selanjutnya adalah pihak guru di sekolah,”

Saya              : “Saya rasa hanya itu yang ingin saya tanyakan, terima kasih atas waktu luangnya. Selamat sore.”

Narasumber : “Ya. Sama-sama. Selamat sore juga.”

3. Contoh teks wawancara dengan narasumber

(Tentang pencurian di rumah Pak Ahmad)

Wartawan : Pukul berapa, kejadiannya, Pak?

Pak Ahmad : Kira-kira pukul 2 malam.

Wartawan : Apa saja yang diambil pencuri, Pak?

Pak Ahmad: Televisi, radio, VCD, dan laptop.

Wartawan : Mengapa hanya barang elektronik yang diambil, tidak uang atau perhiasan?

Pak Ahmad: Mungkin kalau pencuri itu masuk kamar, takut saya dan istri saya terbangun! Kan, repot kalau ketahuan!

Wartawan : Oya, ini termasuk wilayah kepolisian mana, Pak?

Pak Ahmad: Perumahan Permata Biru ini termasuk Kelurahan Sukarame Permata, Kecamatan Sukarame, wilayah hukum Polres Bandarlampung.

Wartawan : Bapak sudah punya dugaan, siapa kira-kira pencurinya itu?

Pak Ahmad: Lah, gak tahu, ya! Kalau sudah tahu, tentu saja sudah saya tangkap. Tapi melihat jendela yang rusak, seperti sudah tahu bahwa jendela dekat pojok sana engselnya rusak. Saya curiga, jangan jangan orangnya tahu rumah saya. Itu hanya kecurigaan! Yang jelas saya tidak menuduh siapa-siapa, takut menjadi fitnah! Fitnah, itu kan, dosa. Nanti sama dosanya dengan yang mencuri barang-barang saya ini!

Wartawan : Bagaimana setelah kejadian itu? Trauma atau ada harapan untuk segera dituntaskan tindak kriminal ini!

Pak Ahmad: Ya, trauma, sih, tentu saja! Baru pertama kali, kok, rumah dibobol pencuri. Ya, saya berharap pihak yang berwajib segera bertindak. Paling tidak, keamanan masyarakat terjaga, jangan sampai terulang lagi kejadian seperti ini.

4. Contoh teks wawancara dengan pedagang

5. Contoh teks wawancara dengan guru

6. Contoh teks wawancara tentang lingkungan

7. Contoh teks wawancara tentang hewan peliharaan Kucing

A : “Selamat pagi Yulia?” 


Y : “Iya,pagi juga. Kok tumben sekali kalian menemuiku? Ada apa?” 


A : “Nggak yul, kami cuma mau tanya-tanya tentang hewan peliharaanmu” 


Y : “Oh boleh saja, memang apa saja yang mau kalian tanyakan?” 


I : “Oke yul,kalau boleh tau apa sih hewan yang kamu pelihara saat ini?” 


Y : “Hewan yang saat ini aku pelihara adalah kucing” 


A : “Kira-kira,apa sih alasan kamu kenapa memelihara hewan yaitu kucing?” 


Y : “Awalnya alasanku memelihara hewan yaitu kucing sebenarnya hanya untuk  mengusir kebosanan, tetapi lambat laun kucing yang aku pelihara ternyata juga dapat aku jadikan sebagai teman” 


I : “Dapat dijadikan sebagai teman?” 


Y : “Iya, menurutku kucing dapat dijadikan teman karena kucing bisa menghargai dan mencintai pemiliknya” 


A : “Oh begitu, terus kenapa kamu lebih memilih memelihara kucing dibandingkan dengan hewan lainnya?” 


Y : “Karena hampir tidak ada orang yang takut pada kucing dan pastinya juga karena menurutku  kucing merupakan hewan yang imut dan manis” 


I : “Wah sepertinya menyenangkan sekali ya memelihara kucing?” 


Y : “Ya bisa dibilang begitu, tapi bukan berarti tanpa resiko jika kita memilih untuk memelihara kucing” 


A : “Memang apa saja resikonya jika kita memelihara kucing?” 


Y : “Resiko ketika kita memelihara kucing adalah bila kita kurang waspada, sejumlah penyakit serius sewaktu-waktu dapat menyerang kita yang disebabkan oleh kucing yang kita pelihara tersebut. Selain itu, kucing yang kita pelihara mungkin juga suka buang kotoran di sembarang tempat” 


I : “Apa saja contoh penyakit serius yang dapat disebabkan oleh kucing yang kita pelihara itu?” 


Y : “Contoh penyakit yang dapat disebabkan oleh kucing yang kita pelihara diantaranya adalah toksoplasmosis, infeksi akibat cakaran dan gigitan, cacingan serta alergi” 


A: “Apa saja sih perawatan yang dapat dilakukan agar kucing yang kita pelihara sehat?” 


Y : “Perawatan yang dapat kita lakukan untuk kucing yang kita pelihara agar sehat antara lain memandikannya,menyisir bulunya serta membersihkan telinga,muka,gusi,gigi dan kukunya” 


I : “Apa kucing kamu pernah terserang penyakit? Klau iya, apa sih obat yang sering kamu berikan disaat kucingmu sakit?” 


Y : “Biasanya kalau kucingku sakit, akan aku bawa ke dokter hewan” 


A : “Oh gitu ya? Oke deh yul terima kasih atas waktunya untuk menjawab semua pertanyaan kami” 


Y: “Oh sama-sama, aku malah senang ada yang ingin mengetahui tentang hewan peliharaan, jangan sungkan – sungkan bertanya lagi kalau kalian masih mau tau info lain tentang hewan peliharaan”


I : “Oke yul siiiiip, kami tidak akan sungkan bertanya kepada kamu kalau kami ingin tau info lain tentang hewan peliharaan”

Keterangan:

Y : Yulia   (Narasumber)

I : Ilham (Pewawancara)

A : Akbar (Pewawancara)

Demikian contoh teks wawancara secara lengkap, untuk beberpa contoh lainnya polanya sama dengan contoh teks wawancara yang sudah ada tinggal mengikuti polanya.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Pengertian Era Globalisasi dan Dampaknya

 Pengertian era globalisasi dapat dijelaskan dari dua kata yang membangunnya yakni kata “era” dan “globalisasi”. Era berarti zaman atau kurun waktu, sementara globalisasi berarti proses mengglobal atau mendunia. Dengan demikian era globalisasi berarti zaman yang di dalamnya terjadi proses mendunia.
Proses mendunia ini yang terjadi sejak tahun 1980-an itu terjadi di berbagai bidang atau aspek kehidupan manusia, misalnya di bidang politik, sosial, ekonomi, agama, dan terutama sekali globalisasi di bidang teknologi.

Proses mendunia tersebut di atas, secara konkret dapat dijelaskan sebagai berikut. Perkembangan budaya manusia dewasa ini telah mencapai taraf yang luar biasa, yang di dalamnya manusia bergerak menuju ke arah terwujudnya satu masyarakat manusia yang mencakup seluruh dunia; satu masyarakat global. Dengan teknologi transportasi dan komunikasi serba canggih yang berhasil diciptakannya, manusia telah berhasil mengatasi jarak yang dahulu misahkan manusia yang satu dari yang lain, suku bangsa yang satu dari yang lain, bangsa yang satu dari yang lain, budaya dan agama yang satu dari yang lain. Berkembangnya teknologi transportasi dan komunikasi menyebabkan jarak antar kota, antar pulau, antar negara, dan antar benua seolah tidak ada lagi. Di zaman ini, manusia dengan mudahnya berkomunikasi satu sama lain di seluruh penjuru dunia dengan memanfaatkan satelit-satelit yang berada di atas Indian Ocean Region, Pacific Ocean Region, dan Atlantic Ocean Region. Dengan kata lain, berkembangnya teknologi transportasi dan komunikasi, dunia seolah semakin sempit, ruang dan waktu menjadi semakin relatif, dan batas-batas negara seakan begitu mudah untuk diterobos.

Pengertian era globalisasi sebagai kurun waktu yang di dalamnya terjadi proses mendunia secara nyata menyebabkan apa yang ada di Jakarta ada pula di New York; apa yang dibisikkan di Jakarta terdengar pula di New York dan sebaliknya. Contoh konkretnya: “Jeans” ada baik di New York maupun Jakarta. Fenomena ini sebenarnya hendak berkata bahwa teknologi transportasi dan teknologi komunikasi yang semakin canggih mampu menghubungkan umat manusia di seluruh belahan dunia, sehingga terciptalah satu kehidupan bersama; satu masyarakat, yang meliputi seluruh umat manusia dengan sejarah kehidupan bersama, sejarah umat manusia.

Dampak Era Globalisasi

Era globalisasi dapat membawa dampak baik positif maupun negatif. Dampak Positif yang terjadi diantaranya:

  • Hanya dengan satu medium saja berjuta-juta manusia dapat menyaksikan pertandingan yang bergengsi lewat layar televisi.
  • Era globalisasi telah membawa dampak terciptanya satu masyarakat yang meliputi seluruh umat manusia.
  • Era globalisasi dapat memungkinkan terjadinya perubahan besar pada pola hidup manusia, misalnya pada cara kerja manusia: manusia akan semakin aktif dalam memanfaatkan, menanam, dan memperdalam kapasitas individunya manusia semakin ingin menampilkan nilai-nilai manusiawi dan jati diri budayanya.
Dampak negatif dari era globalisasi diantaranya adalah sebagai berikut:
  • Merembesnya budaya dari negara maju (sebagai pemasok informasi) ke negara berkembang. Perembesan budaya tersebut tidak mustahil dapat berdampak pada ketergantungan budaya negara berkembang terhadap negara maju.
  • Globalisasi informasi itu sendiri dapat menyebabkan pemerkosaan dan imperialisme budaya negara maju atas negara berkembang (dalam hal ini negara yang lebih lamban dalam perkembangan modernisasinya).
  • Walaupun globalisasi tidak bisa langsung diidentikkan dengan westernisasi namun globalisasi sesungguhnya mungkin dapat menyebabkan terjadinya masyarakat yang individualistis dan tidak religius.
Demikian pengertian dampak era globalisasi oleh para ahli …..
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Proses Komunikasi dan Penjelasannya

Untuk memahami proses komunikasi dapat dilihat dari unsur-unsur yang berkaitan dengan siapa pengirimnya (komunikator), apa yang dikatakan atau dikirimkan (pesan), saluran komunikasi apa yang digunakan (media), ditujukan untuk siapa (komunikan), dan apa akibat yang akan ditimbulkannya (efek).

Dalam proses komunikasi tersebut, kewajiban seorang komunikator adalah mengusahakan agar pesan-pesannya dapat diterima oleh komunikan sesuai dengan kehendak pengirim. Model proses komunikasi secara umum dapat memberikan gambaran kepada pengelola organisasi, bagaimana mempengaruhi atau mengubah sikap anggota/stakeholder nya melalui desain dan implementasi komunikasi. Dalam hal ini, pengirim atau sumber pesan bisa individu atau berupa organisasi sebagaimana dapat dilihat dalam gambar proses komunikasi di bawah ini:

Proses Komunikasi dan Penjelasannya

Berdasarkan pada bagan atau gambar proses komunikasi tersebut, suatu pesan, sebelum dikirim, terlebih dahulu disandikan (encoding) ke dalam simbol-simbol yang dapat menggunakan pesan yang sesungguhnya ingin disampaikan oleh pengirim. Apapun simbol yang dipergunakan, tujuan utama dari pengirim adalah menyediakan pesan dengan suatu cara yang dapat memaksimalkan kemungkinan dimana penerima dapat menginterpretasikan maksud yang diinginkan pengirim dalam suatu cara yang tepat. Pesan dari komunikator akan dikirimkan kepada penerima melaui suatu saluran atau media tertentu. Pesan yang di terima oleh penerima melalui simbol-simbol, selanjutnya akan ditransformasikan kembali (decoding) menjadi bahasa yang dimengerti sesuai dengan pikiran penerima sehingga menjadi pesan yang diharapkan (perceived message) .

Hasil akhir yang diharapkan dari proses komunikasi yakni supaya tindakan atau pun perubahan sikap penerima sesuai dengan keinginan pengirim. Akan tetapi makna suatu pesan dipengaruhi bagaimana penerima merasakan pesan itu sesuai konteksnya. Oleh sebab itu, tindakan atau perubahan sikap selalu didasarkan atas pesan yang dirasakan.

Adanya umpan balik menunjukkan bahwa proses komunikasi terjadi dua arah, artinya individu atau kelompok dapat berfungsi sebagai pengirim sekaligus penerima dan masing-masing saling berinteraksi. Interaksi ini memungkinkan pengirim dapat memantau seberapa baik pesan-pesan yang dikirimkan dapat diterima atau apakah pesan yang disampaikan telah ditafsirkan secara benar sesuai yang diinginkan.

Dalam kaitan ini sering digunakan konsep kegaduhan (noise) untuk menunjukkan bahwa ada semacam hambatan dalam proses komunikasi yang bisa saja terjadi pada pengirim, saluran, penerima atau umpan balik. Dengan kata lain, semua unsur-unsur atau elemen proses komunikasi berpotensi menghambat terjadinya komunikasi yang efektif. Hambatan tersebut diuraikan dalam hambatan-hambatan dalam komunikasi.

Itulah penjelasan proses komunikasi beserta bagan terjadinya proses komunikasi. Cermati pula bentuk dan jenis-jenis komunikasi. Semoga dapat dipahami hal-hal yang berhubungan dengan interaksi masing-masing unsur dalam komunikasi.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

3 Jenis Komunikasi Formal Dalam Organisasi

Menurut Gibson et al. (1997) terdapat tiga jenis komunikasi formal dalam organisasi, yaitu : komunikasi horizontal, komunikasi diagonal, dan komunikasi vertikal.

1. Komunikasi horizontal (komunikasi lateral/menyamping)

Komunikasi horizontal merupakan bentuk komunikasi secara mendatar dimana terjadi pertukaran pesan secara menyamping dan dilakukan oleh dua pihak yang mempunyai kedudukan sama, posisi sama, jabatan se-level, maupun eselon yang sama dalam suatu organisasi. Menurut Daft (2003), komunikasi bentuk ini selain berguna untuk menginformasikan juga untuk meminta dukungan dan mengkoordinasikan aktivitas. Komunikasi horizontal diperlukan untuk menghemat waktu dan memudahkan koordinasi sehingga mempercepat tindakan (Robbins, 2001). Kemudahan koordinasi ini menurut Liaw (2006) disebabkan adanya tingkat, latar belakang pengetahuan dan pengalaman yang relatif sama antara pihak-pihak yang berkomunikasi, serta adanya struktur formal yang tidak ketat.

2. Komunikasi diagonal (komunikasi silang)

Komunikasi diagonal merupakan komunikasi yang berlangsung dari satu pihak kepada pihak lain dalam posisi yang berbeda, dimana kedua pihak tidak berada pada jalur struktur yang sama. Komunikasi diagonal digunakan oleh dua pihak yang mempunyai level berbeda tetapi tidak mempunyai wewenang langsung kepada pihak lain. Koontz et al. (1989) mengatakan bahwa komunikasi silang ini tidak mengikuti hirarki organisasi tetapi memotong garis komando. Komunikasi ini merupakan saluran komunikasi yang jarang digunakan dalam organisasi, namun penting dalam situasi dimana anggota tidak dapat berkomunikasi secara efektif melalui saluran lain. Penggunaan komunikasi ini selain untuk menanggapi kebutuhan dinamika lingkungan organisasi yang rumit, juga mempersingkat waktu dan memperkecil upaya yang dilakukan organisasi (Gibson et al., 1997).

3. Komunikasi vertikal

Komunikasi vertikal adalah komunikasi yang terjadi antara atasan dan bawahan dalam organisasi. Robbins (2001) menjelaskan bahwa komunikasi vertikal adalah komunikasi yang mengalir dari satu tingkat dalam suatu organisasi/kelompok ke suatu tingkat yang lebih tinggi atau tingkat yang lebih rendah secara timbal balik. Dalam lingkungan organisasi atau kelompok kerja, komunikasi antara atasan dan bawahan menjadi kunci penting kelangsungan hidup suatu organisasi. Bahkan menurut Stoner dan Freeman (1994), dua per tiga dari komunikasi yang dilakukan dalam organisasi antara atasan dan bawahan berlangsung secara vertikal, sehingga peran komunikasi vertikal sangat urgen dalam organisasi.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Pengertian, Jenis-Jenis dan Proses Komunikasi

KOMUNIKASI

Komunikasi adalah proses dimana orang yang bekerja  dalam organisasi saling mentransmisikan informasi dan menginterpretasikan artinya. Yang penting komunikasi dalam organisasi diperolehnya komunikasi yang efisien dan efektif. Komunikasi yang efektif terjadi bila artian yang dimaksudkan oleh pengirim berita dan artian yang ditangkap oleh penerima berita itu sama dan satu. Sedangkan komunikasi yang efisien terjadi bila biayanya minimum berdasar sumber daya yang dimanfaatkan.

Komunikasi yang efektif sangat penting bagi manajer, karena sebagai proses dimana fungsi manajemen seperti  fungsi perencanaan, fungsi pengorganisasian, fungsi kepemimpinan, fungsi pengendalian dapat dicapai. Komunikasi biasanya sering terganggu hal ini dikarenakan masalah sematik/arti kata, tak adanya umpan balik, saluran komunikasi, gangguan fisik, perbedaan budaya dan status.

Ada pedoman untuk mendapatkan komunikasi secara efektif antara lain yaitu bahwa seseorang harus mendengarkan secara aktif, usahakan memberikan umpan balik, lansung pada masalah, mengambarkan situasi,dan meringkas. Proses komunikasi memungkinkan para manajer menjalankan tanggung jawabnya dan informasi harus dikomunikasikan jepada para manajer sebagai dasar pembuatan keputusan dalam pembuatan fungsi manajer baik secara lisan maupun tulisan.

Komunikasi dapat diartikan sebagai proses pemindahan dalam gagasan atau informasi seseorang ke orang lain. Selain dikatakan sebagai proses pemindahan gagasan seseorang dari orang lain dalam bentuk kata-kata tetapi juga dalam bentuk ekspresi wajah intonasi dan sebagainya. Komunikasi dapat menghubungkan antara bagian yang berbeda atau disebut rantai pertukaran informasi. Hal ini mengandung unsur-unsur ;

  1. Sebagai kegiatan seseorang untuk megerti,
  2. Sebagai sarana pengendalian informasi,
  3. Sebagai sistem bagi terjalinnya komunikasi diantara individu-individu.

Menurut pakar American Management Association ada sepuluh aturan jika ingin berkomuikasi dengan baik:

  • Jelaskan konsep/ide Anda sebelum berkomunikasi,
  • Teliti tujuan sebenarnya dalam komunikasi,
  • Pertimbangkan suasana lingkungan dan waktu,
  • Hubungan pihak lain,
  • Waspada atas nada dan isi berita,
  • Komunikasikan seseorang yang membantu dan bernilai bagi penerima,
  • Tindak lanjut komunikasi,
  • Komunikasi untuk waktu yang akan datang pula,
  • Tindakan konsisten dengan kata,dan
  • Menjadilah pendengar yang baik.

 

PROSES KOMUNIKASI

Contoh model komunikasi yang sederhana digambarkan dibawah ini :

 

   Pengirim—>Berita—>Penerima

 

Jika salah satu elemen komunikasi tidak ada maka komunikasi tidak akan berjalan. Ada komponen-komponen dalam komunikasi antara lain :

Pengirim(Sender=Sumber) adalah seseorang yang mempunyai kebutuhan atau informasi serta mempunyai kepentinga mengkomunikasikan kepada orang lain.

Pengkodean (Encoding) adalah pengirim mengkodean informasi yang akan disampaikan ke dalam symbol atau isyarat.

Pesan (Massage), pesan dapat dalam segala bentuk biasanya dapat dirasakan atau dimengerti satu atau lebih dari indra penerima.

Saluran (Chanel) adalah cara mentrasmisikan pesan, misal kertas untuk surat, udara untuk kata-kata yang diucapkan.

Penerima (Recaiver) adalah orang yang menafsirkan pesan penerima, jika pesan tidak disampaikan kepada penerima maka komunikasi tidak akan terjadi.

Penafsiran kode (Decoding) adalah proses dimana penerima menafsirkan pesan dan menterjemahkan menjadi informasi yang berarti baginya. Jika semakin tepat penafsiran penerima terhadap pesan yang dimaksudkan oleh penerima, Maka semakin efektif komunikasi yang terjadi.

Umpan balik (Feedback) adalah pembalikan dari proses komunikasi dimana reaksi kominikasi pengirim dinyatakan.

Didalam organisasi sangat membutuhkan komunikasi. Adapun jenis- jenis komunikasi dalam organisasai antara lain :

a. Komunikasi formal vs informal

Komunikasi formal adalah komunikasi yang mengikuti rantai komando yang dicapai oleh hirarki wewenang. Komunikasi informal adalah komunikasi yang terjadi diluar dan tidak tergantung pada herarki wewenang. Komunikasi informal ini timbul karena adanya berbagai maksud, yaitu

– Pemuasan kebutuhan manusiawi,

– Perlawanan terhadap pengaruh yang monoton dan membosankan,

– Keinginan untuk mempengaruhi perilaku orang lain,

– Sumber informasi hubungan pekerjaan.

Jenis lain dari komunikasi informasi adalah adalah dasas-desusyang secara resmi tidak setuju. Desas-desus ini juga mempunyai peranan fungsional sebagai alat komunikasi tambahan bagi organisasi.

b. Komunikasi ke bawah vs komunikasi ke atas vs komunikasi lateral

Komunikasi kebawah mengalir dari peringkat atas ke bawah dalam herarki. Komunikasi ke atas adalah berita yang mengalir darin peringkat bawah ke atas atas suatu organisasi. Komunikasi lateral adalah sejajar antara mereka yang berada tingkat satu wewenang.

c. Komunikasi satu arah dan dua arah

Komunikasi satu arah, pengirim berita berkomunikasi tanpa meminta umpan balik, sedangkan komunikasi dua arah adalah penerima dapat dan memberi umpan balik.

Bagaimanapun juga keefektifan komunikasi organisasi dipengaruhi beberapa factor diantaranya :

  1. Saluran komunikasi formal
  2. Sruktur wewenang

Dalam organisasi dimana perbedaan stasus dan kekuasaan akan mempengaruhi isi komunikasi.

  1. Spesialis jabatan

Anggota organisasi yang sama akan menggunakan istilah-istilah, tujuan, tugas, waktu, dan gaya yang sama dalam berkomonikasi.

  1. Pemilikan informasi

Berarti individu memunyai informasi dan pengetahuan yang khas mengenai tugasnya.

Dari pengamatan yang ada, bentuk-bentuk jaringan komunikasi dikelompokan ke dalam beberapa bentuk diantaranya bentuk lingkaran, diagonal, lateral, rantai, huruf Y, dan bintang.

 

source : http://pelatihanguru.net/apa-itu-jenis-jenis-tahap-komunikasi-dan-pengertian-proses-komunikasi

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Teori Komunikasi Massa

Pengertian Komunikasi Massa

Komunikasi bersifat dinamis. Manusia sebagai makhluk komunikasi juga dinamis, sehingga komunikasi senantiasa mengikuti perubahan kebutuhan dan dinamika kehidupan manusia. Komunikasi menjadi sebuah sistem untuk berhubungan, berdialog dengan diri sendiri (intrapersonal) dan dengan orang lain (interpersonal). Seiring perkembangan zaman, komunikasi menjadi sebuah kebutuhan mutlak bagi setiap individu, tanpa mengenal usia, jenis kelamin, pekerjaan, status sosial, dan lain-lain. Tidak mengherankan, setelah kita melewati zaman industrialisasi, kini kita menghadapi zaman informasi (information age). Kebutuhan akan informasi terus meningkat seiring dengan pesatnya perkembangan dan kemajuan inovasi dan teknologi, demi mencapai kesejahteraan hidup manusia. Hal inilah yang melatarbelakangi munculnya berbagai media yang mampu menyebarkan informasi kepada khalayak luas, dimulai dari media cetak (surat kabar, brosur, leaflet, dll), media elektronik (telepon, radio, televisi), hingga media hybrid (internet).

Menurut Rakhmat (2011), definisi yang paling sederhana tentang komunikasi massa dirumuskan Bittner (1980:10) yaitu, “Mass communication is messages communicated through a mass medium to a large number of people” (Komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang). Berdasarkan definisi tersebut, dapat diartikan bahwa komunikasi massa merujuk pada “pesan”, namun menurut Wiryanto (2000) “komunikasi massa merupakan suatu tipe komunikasi manusia (human communication) yang lahir bersamaan dengan mulai digunakannya alat-alat mekanik, yang mampu melipatgandakan pesan-pesan komunikasi”. Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa komunikasi massa adalah sebuah bentuk komunikasi yang memanfaatkan media massa untuk menyebarkan pesan kepada khalayak luas pada saat yang bersamaan.

Massa dalam hal ini merujuk pada khalayak yang tersebar di berbagai tempat, tidak terbatas jumlahnya dan anonim. Elizabeth Noelle-Neuman (1973 : 92) dalam Rakhmat (2011) menyebutkan empat tanda pokok dari komunikasi massa, yaitu :

  1. Bersifat tidak langsung, artinya harus melewati media teknis (teknologi media). Komunikasi massa mengharuskan adanya media massa dalam prosesnya, hal ini dikarenakan teknologi yang membuat komunikasi massa dapat terjadi. Dapat dibayangkan bahwa tidak mungkin seseorang melakukan komunikasi massa tanpa bantuan media massa (teknologi), bahkan bila ia berteriak sekencang-kencangnya.
  2. Bersifat satu arah, artinya tidak ada interaksi antara peserta-peserta komunikasi. Dalam istilah komunikasi, reaksi khalayak yang dijadikan masukan untuk proses komunikasi berikutnya disebut umpan balik (feedback). Namun dalam sistem komunikasi massa, komunikator sukar menyesuaikan pesannya dengan reaksi komunikan (khalayak luas dalam hal ini). Komunikasi bersifat irreversible, yang artinya ketika sudah terjadi tidak dapat diputar balik (diulang). Begitu juga halnya dengan komunikasi massa. Sebuah informasi yang telah disebarkan, tidak dapat diputar ulang seperti membuat air menjadi es, kemudian membuat es menjadi air kembali. Dalam komunikasi massa, publik atau khalayak hanya menjadi penerima informasi. Pada saat komunikasi massa dilakukan, khalayak tidak dapat langsung memberikan feedback untuk mempengaruhi pemberi informasi, dalam hal ini untuk aliran komunikasi sepenuhnya diatur oleh komunikator. Namun demikian, dalam komunikasi massa masih terdapat kemungkinan adanya siaran ulang, yaitu memutar ulang tayangan yang sama dalam televisi atau radio.
  3. Bersifat terbuka, artinya ditujukan pada publik yang tidak terbatas dan anonim. Komunikasi dengan media massa memungkinkan komunikator untuk menyampaikan pesan kepada publik yang tidak terbatas jumlahnya, siapapun dan berapapun orangnya selama mereka memiliki alat penerima (media) siaran tersebut.
  4. Mempunyai publik yang secara geografis tersebar. Seperti dikemukakan sebelumnya, komunikasi massa tidak hanya ditujukan bagi sekelompok orang di kawasan tertentu, namun lebih kepada khalayak luas di manapun mereka berada. Oleh karena itu, lewat media massa seseorang atau sekelompok orang dapat melakukan persuasi kepada banyak orang di berbagai tempat dengan efisien.

Unsur-unsur Komunikasi Massa

Komunikasi massa terdiri dari sumber (source), pesan (message), saluran (channel), dan penerima (receiver) serta efek (effect). Wiryanto (2000) menggunakan pendapat Laswell untuk memahami komunikasi massa, di mana untuk mengerti unsur-unsurnya kita harus menjawab pertanyaan yang diformulasikan sebagai berikut : who says what in which channel to whom and with what effect? (siapa berkata apa dalam media yang mana kepada siapa dengan efek apa?).

Sumber utama dalam komunikasi massa adalah lembaga, organisasi atau orang yang bekerja dengan fasilitas lembaga atau organisasi (institutionalized person) (Wiryanto, 2000). Kita juga mengenal istilah “siapa yang menguasai informasi, dapat menguasai dunia”. Pernyataan tersebut adalah sebuah bentuk pengakuan atas kekuatan pengaruh media massa bagi masyarakat. Pada era orde baru kita dapat melihat pengekangan pers untuk menyiarkan berita-berita yang bersifat anti-pemerintah, seperti yang terjadi pada zaman kekuasaan Nazi atas Jerman. Pemerintah berupaya untuk mengatur aliran informasi kepada masyarakat, dengan maksud untuk membatasi dan mengantisipasi gerakan-gerakan anti-pemerintah.

Pesan-pesan komunikasi massa dapat diproduksi dalam jumlah yang sangat besar dan dapat menjangkau audiens yang sangat banyak jumlahnya. Wright (1977) dalam Wiryanto (2000) memberikan karakteristik pesan-pesan komunikasi massa sebagai berikut :

1. Publicy

Pesan-pesan komunikasi massa pada umumnya tidak ditujukan kepada perorangan tertentu yang eksklusif, melainkan bersifat terbuka untuk umum atau publik. Semua anggota mengetahui, orang lain juga menerima pesan yang sama dan disampaikan secara publicy.

2. Rapid

Pesan-pesan komunikasi massa dirancang untuk mencapai audiens yang luas dalam waktu yang singkat dan simultan. Pesan-pesan dibuat secara massal dan tidak seperti fine art yang dapat dinikmati berabad-abad.

3.   Transient

Pesan-pesan komunikasi massa umumnya dibuat untuk memenuhi kebutuhan segera, dikonsumsi “sekali pakai” dan bukan untuk tujuan-tujuan yang bersifat permanen. Namun, ada pengecualian, seperti buku-buku perpustakaan, film, transkripsi-transkripsi radio, dan rekaman audio visual yang merupakan kebutuhan dokumentatif. Pada umumnya pesan-pesan komunikasi massa adalah pesan-pesan yang expendable. Maka isi media cenderung dirancang secara timely, supervisial, dan kadang-kadang bersifat sensasional.

Media yang mempunyai kemampuan untuk menyebarluaskan pesan-pesan komunikasi massa secara cepat, luas, dan simultan adalah surat kabar, majalah, radio, film, televisi, dan internet. Leeuwis (2009) membahas mengenai media massa konvensional yang saat ini sedang berkembang. Media massa konvensional dapat berupa koran, jurnal pertanian, leaflet, radio dan televisi. Karakteristik dasarnya adalah bahwa seorang pengirim dapat mencapai banyak orang dengan media tersebut, sambil tetap berada di kejauhan, dan tanpa kemungkinan keterlibatan dalam interaksi langsung dengan audiens.

Media massa, khususnya radio, televisi, dan koran, memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menentukan cara pandang masyarakat mengenai berbagai hal. Itu sebabnya tidak mengherankan bahwa hal pertama yang dilakukan rezim otoriter baru adalah meyakinkan bahwa mereka mengontrol media massa. Idenya adalah bahwa bila kita mengontrol media massa, kita dapat secara selektif mempengaruhi cara masyarakat luas berpikir dan melihat realitas, dan dapat mencegah orang lain untuk menunjukkan gambaran yang berbeda mengenai realitas tersebut.

Menurut Wright (1977) dalam Wiryanto (2000), penerima atau mass audience memiliki karakteristik-karekteristik sebagai berikut :

a.   Large

Besarnya mass audience adalah relatif dan menyebar dalam berbagai lokasi. Khalayak televisi misalnya, merupakan perorangan-perorangan yang tersebar dalam ratusan atau ribuan (bahkan jutaan) keluarga, di tempat-tempat umum yang yang memasang televisi penerima. Secara bersama-sama mereka adalah audiens televisi.

b.  Heterogen

Komunikasi massa ditujukan untuk seluruh lapisan masyarakat, yang berasal dari berbagai status sosial, jenis kelamin, pendidikan, dan tempat tinggal. Heterogen adalah semua lapisan masyarakat dengan berbagai keragamannya.

c.   Anonim

Anonim diartikan anggota-anggota dari mass audience, pada umumnya tidak mengenal secara pribadi dengan komunikator.

Gonzalez dalam Jahi (1988) menyebutkan tiga dimensi komunikasi massa, yaitu : kognitif, afektif, dan konatif. Efek kognitif meliputi peningkatan kesadaran, belajar, dan tambahan pengetahuan. Efek afektif berhubungan dengan emosi, perasaan, dan sikap. Sedangkan efek konatif berhubungan dengan perilaku dan niat untuk melakukan sesuatu menurut cara tertentu. Selanjutnya gonzalez menyatakan bahwa, meskipun dimensi-dimensi efek ini berhubungan satu sama lain, ketiganya juga independen satu sama lain. mereka terjadi dalam berbagai sekuen, dan perubahan dalam satu dimensi tidak perlu diikuti oleh perubahan dalam dimensi lainnya. Efek komunikasi massa dapat juga ditinjau dari dimensi lain, yaitu : (1) Langsung atau kondisional, (2) spesifik-isi atau umum-menyebar, (3) perubahan atau stabilisasi, (4) kumulatif atau nonkumulatif, (5) jangka pendek atau jangka panjang, (6) mikro atau makro, dan (7) efek proporsional atau antisosial (gonzalez dalam Jahi, 1988).

Efek diketahui melalui tanggapan khalayak (response audience) yang digunakan sebagai umpan balik (feedback). Dalam komunikasi massa, jumlah umpan balik relatif kecil dibandingkan dengan jumlah khalayak secara keseluruhan yang merupakan sasaran komunikasi massa, dan sering tidak mewakili seluruh khalayak (Wiryanto, 2000).

Menurut McLuhan dalam Rakhmat (2011), media massa adalah perpanjangan alat indera kita. Dengan media massa, kita memperoleh informasi tentang benda, orang, atau tempat yang tidak kita alami secara langsung. Dunia ini terlalu luas untuk kita masuki semuanya. Media massa datang menyampaikan informasi tentang lingkungan sosial dan politik. Informasi tersebut dapat membentuk, mempertahankan, atau mendefinisikan citra. Karena media massa melaporkan dunia nyata secara selektif, sudah tentu media massa mempengaruhi pembentukan citra tentang lingkungan sosial yang timpang, bias, dan tidak cermat.

Model-Model tentang Efek Komunikasi Massa

Berikut ini dikemukakan model-model proses komunikasi massa :

1.   Model teori peluru (bullet theory model)

Teori peluru, yang juga dikenal sebagai teori “Hypodermic Needle” atau teori “Stimulus-Response” yang mekanistis merupakan suatu pandangan yang menyatakan, komunikasi massa memiliki kekuatan yang besar atas mass audience. Media massa dianggap memiliki pengaruh yang sangat besar, layaknya jarum suntik yang dimasukkan dalam tubuh pasien, audiens menerimanya secara langsung dan pengaruhnya spontan dirasakan. Hal ini menyebabkan adanya perubahan pemikiran khalayak, maupun perubahan sikap dan perilakunya secara spontan.

2.   Model Efek Terbatas (limited effects model)

Model ini muncul sekitar tahun 1940, ketika para ilmuwan sosial menjadi tertarik oleh efek-efek langsung dan kuat yang ditimbulkan oleh media massa atas individu-individu. Sejak saat itu, mulai dilakukan penelitian-penelitian ilmiah, yang semuanya menunjukkan kesimpulan yang sama : pengaruh komunikasi massa adalah terbatas, tidak all-powerfull, malahan sama sekali tidak efektif manakala tujuannya untuk menimbulkan sikap dan/atau perilaku nyata. Model efek terbatas ini memperoleh dukungan yang kuat dari model alir komunikasi dua tahap (two step flow) yang menyatakan, pesan-pesan media tidak seluruhnya mencapai mass audience secara langsung; sebagian besar malahan berlangsung secara bertahap. Tahap pertama dari media massa kepada para pemuka masyarakat (opinion leaders). Tahap kedua dari pemuka masyarakat kepada khalayak ramai (mass audience atau followers). Menurut model ini, komunikasi massa hanya akan efektif, khususnya dalam mengubah sikap dan perilaku (behaviour change), apabila ia dikombinasikan penggunaannya dengan komunikasi antarpribadi (interpersonal communication).

3.   Model Efek Moderat (moderate effects model)

Model ini merupakan hasil studi atau riset tentang efek yang dilakukan pada periode 1960-1970an. Studi pada periode itu berangkat dari posisi audiens (bukan dari posisi komunikator) dan lebih memusatkan perhatiannya pada pola-pola komunikasi mereka, khususnya dalam hubungannya dengan pesan-pesan media. Model ini meliputi pendekatan-pendekatan sebagai berikut :

a). The Information-Seeking Paradigm

       kecenderungan audiens untuk secara aktif mencari informasi dan tidak semata-mata pasif menerima informasi, bergantung pada opinion leader. Paradigma ini memusatkan perhatiannya pada perilaku individual dalam menceri informasi dan berusaha mengidentifikasikan faktor-faktor yang menentukan perilaku.

b). The Uses and Gratifications Approach

Pendekatan tentang kebutuhan individu terhadap pesan-pesan media berdasarkan asas manfaat dan kepuasan. Menurut pendekatan ini, komunikasi massa mempunyai kapasitas menawarkan sejumlah pesan yang dapat dimanfaatkan oleh komunikannya, sekaligus dapat memuaskan berbagai kebutuhannya. Dengan demikian, orang yang berbeda dapat menggunakan pesan-pesan media yang sama untuk berbagai tujuan atau maksud yang berbeda-beda. Rakhmat (2011) menyebutkan, pendekatan ini pertama kali dinyatakan oleh Elihu Katz (1959) sebagai reaksi terhadap Bernard Berelson yang menyatakan bahwa penelitian komunikasi mengenai efek media massa sudah mati. Karena penggunaan media adalah salah satu cara untuk memperoleh pemenuhan kebutuhan, maka efek media sekarang didefinisikan sebagai situasi ketika pemuasan kebutuhan tercapai.

c). The Agenda-Setting Function

Model lain yang termasuk model efek moderat adalah pendekatan agenda setting yang dikembangkan oleh Maxwell E. McComb dan Donald L. Shaw. Model ini menunjuk pada kemampuan media massa untuk bertindak selaku agenda (catatan harian) komunikan-komunikannya. Hal ini disebabkan media memiliki kapasitas untuk memilih materi atau isi pesan bagi komunikannya. Materi atau isi pesan ini diterima komunikan sebagai sesuatu yang penting yang dapat mempengaruhi sikap dan perilakunya mengenai sesuatu hal. Menurut teori ini, media massa memang tidak dapat mempengaruhi orang untuk mengubah sikap, tetapi media massa cukup berpengaruh terhadap apa yang dipikirkan orang. Ini berarti media massa mempengaruhi persepsi khalayak tentang apa yang dianggap penting.

d). The Cultural Norms Theory

Menurut teori ini komunikasi massa memiliki efek yang tidak langsung atas perilaku melalui kemampuannya dalam membentuk norma-norma baru. Norma-norma ini berpengaruh terhadap pola sikap untuk pada akhirnya akan mempengaruhi pola-pola perilakunya.

4.   Model efek kuat

Model efek kuat ini baru merupakan suatu indikasi, pada suatu saat orang akan benar-benar mendapati, komunikasi massa memiliki efek yang besar, all-powerfull dalam versi yang baru. Sejumlah studi agaknya sependapat, komunikasi massa dapat mewujudkan powerfull effect apabila ia digunakan dalam program-program atau kampanye-kampanye yang dipersiapkan lebih dulu secara cermat sesuai dengan prinsip-prinsip komunikasi yang ada. prinsip-prinsip itu antara lain sebagai berikut :

a). Prinsip mengulang-ulang (redundancy), yaitu mengulang-ulang suatu pesan selama periode waktu tertentu. Dengan cara ini ternyata banyak membawa hasil dibanding dengan hanya menyajikan pesan tunggal dalam memperoleh efek yang diinginkan.

b). Mengidentifikasikan dan memfokuskan pada suatu audiens tertentu yang ditargetkan (segmentasi khalayak), kemudia tujuan dari komunikasi atau kampanye itu dirumuskan secara khusus dalam arti pesan-pesannya benar-benar terkait dan terarah kepada pencapaian tujuan. Dengan cara ini audiens merasa, pesan-pesan itu ditujukan kepadanya dan tidak kepada setiap orang.

c). Ide atau gagasan dari teori-teori komunikasi juga dapat digunakan dalam pengembangan tema-tema komunikasi, pesan-pesan yang akan diciptakan dan media yang digunakan.

d). Sejumlah prinsip-prinsip yang lain.

Penggabungan Saluran Media Massa dengan Saluran Antarpribadi

Schramm (1964) dalam Wiryanto (2000) menunjukkan secara khusus tugas-tugas modernisasi yang dapat dan tidak dapat dilakukan oleh media massa, dan dapat diterapkan untuk setiap situasi komunikasi massa. Penggabungan antara media massa dan saluran antarpribadi merupakan alat yang paling efektif untuk :

  1. Mencapai khalayak dengan ide-ide baru
  2. Mempengaruhi mereka memanfaatkan inovasi-inovasi.

Bentuk penggabungan antara kedua saluran itu disebut sebagai forum-forum media (mass media forums, media forums). Forum-forum media ini pertama kali dikembangkan di kalangan keluarga-keluarga petani di Kanada. Kemudian menyebar ke Jepang dan negara-negara berkembang seperti India, Nigeria, Ghana, Malawi, Kosta Rika, dan Indonesia. Forum-forum media ini diorganisasikan, ketika kelompok-kelompok kecil dari individu-individu yang bertemu secara reguler menerima suatu program dari media massa dan mendiskusikan program itu.

Jenis Forum media adalah sebagai berikut :

Forum-Forum Radio

India pernah tercatat sebagai negara yang paling luas menggunakan forum radio. Forum radio berusaha membantu para petani menyadarkan mereka tentang masalah-masalah atau inovasi-inovasi di bidang pertanian dan kesehatan serta meningkatkan semangat mereka untuk mencoba ide-ide baru. Secara reguler program-program radio yang sudah dijadwalkan, mengadakan agenda pertemuan anggota-anggota forum, baik di rumah maupun di tempat-tempat umum guna mendengarkan siaran yang berfungsi sebagai agen kelompok-kelompok belajar yang menyertainya. Forum-forum itu memberikan umpan balik secara teratur berupa laporan-laporan diskusi atau pertanyaan-pertanyaan klarifikasi kepada penyiar.

Sekolah-Sekolah Media Massa

Sekolah-sekolah media ini berusaha memberikan dasar-dasar pendidikan, termasuk latihan-latihan melek huruf kepada penduduk yang bertempat tinggal di daerah-daerah pedesaan yang terpencil.

Kelompok-Kelompok Studi di Republik Rakyat Cina

Partai komunis Cina mempergunakan kelompok-kelompok diskusi majalah dan surat kabar sebagai alat indoktrinasi dan pengajaran di kalangan kader-kader partai dan para pengikut partai untuk jangka waktu 50 tahun.

Berbagai tipe forum media, semuanya adalah bentuk-bentuk komunikasi massa yang dikombinasikan dengan dampak komunikasi antarpribadi dalam kelompok-kelompok kecil. Kelompok merupakan unsur yang penting dalam menggerakkan individu-individu kepada penerimaan yang lebih besar pesan-pesan yang disampaikan melalui media massa. Prinsip dasar yang digunakan adalah untuk menanamkan atau mengintroduksikan gagasan-gagasan kepada sejumlah khalayak secara luas.

Efek Forum-Forum Media

Meskipun ada perbedaan-perbedaan dalam tipe sistem forum media antar negara satu dan negara lain serta jenis program yang ditekankan, tetapi semuanya mempunyai unsur-unsur sebagai berikut :

  1. Semua memanfaatkan ata mendayagunakan suatu medium (radio, televisi, atau media cetak) untuk membawakan muatan besar penyampaian pesan-pesan mengenai teknik-teknik inovasi kepada forum diskusi.
  2. Semua menyangkut kelompok-kelompok kecil yang disampaikan melalui saluran-saluran media massa dan anggota-anggotanya kemudian berpartisipasi dalam diskusi-diskusi.
  3. Semua program media tampak efektif dalam menciptakan pengetahuan, membentuk dan mengubah sikap serta dalam catalyzing perubahan perilaku.

Faktor-faktor yang menyebabkan mengapa individu-individu akan belajar lebih banyak apabila mereka menjadi anggota-anggota dari forum media adalah sebagai berikut :

  1. Perhatian dan partisipasi  disemangati oleh adanya tekanan kelompok (group pressure) dan harapan-harapan sosial (social expectation).
  2. Perubahan sikap timbul lebih nyata apabila individu-individu berada di dalam kelompok.
  3. Novelty effects dari saluran-saluran baru dan yang diikuti kemudian oleh kredibilitas tinggi yang melekat pada media dapat dipertanggungjawabkan bagi keberhasilan forum-forum media.
  4. Umpan balik (feedback) dari forum kepada penyiar berlangsung dengan teratur dan relatif cepat.
  5. Forum media memiliki keunggulan dalam mengatasi proses seleksi dari anggota-anggota kelompok.

Daftar Pustaka :

Jahi, Amri. 1988. Komunikasi Massa dan Pembangunan Pedesaan di Negara-Negara Dunia Ketiga. Jakarta : PT Gramedia.

Rakhmat, Jalaluddin. 2011. Psikologi Komunikasi. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Wiryanto. 2000. Teori Komunikasi Massa. Jakarta : PT Grasindo.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Bagaimana Cara Menganalisis Berita?

000

Informasi yang diperoleh dari suatu berita hinggap di memori otak kita bersifat memory jangka pendek (Short Term Memory / STM). Namun berita juga dapat menjadi memori jangka panjang jika berita yang menginformasikan suatu peristiwa dilakukan dengan frekuensi tinggi, terus diulang-ulang dengan durasi yang tinggi pula.

Berita menjadi ingatan jangka panjang pemirsa biasanya menyangkut berbagai “isu-isu yang tidak biasa”  (uncommon issue) sehingga menjadi perhatian publik. Contoh nyatanya adalah berita-berita mengenai kasus Nazaruddin atau berita kecelakaan Saipul Jamil saat ini. Frekuensi pemberitaan tentang kasus ini sangat tinggi, bahkan hingga mencapai titik jenuh. Banyak orang yang merasa jenuh dengan berita itu-itu saja yang diangkat media.

Untuk menilai kebenaran atau validitas suatu berita tidaklah mudah, karena banyak hal yang mendasari munculnya suatu berita. Suzanne Pitner (pengajar dan aktivis media) pernah menulis artikel berjudul “How to Analyze the News“. Ia memberikan beberapa tips untuk menganalisis berita, yang ia singkat dengan istilah strategi COPS (Context, Opinion, Perspective, Sources):

  1. Context: Kenali Berita sesuai Konteksnya!

    Berita bersifat menginformasikan realitas yang bersifat sepotong-sepotong. Realitas diambil melalui kamera atau mata wartawan dan diinformasikan ke publik. Kamera dan mata wartawan tentunya memiliki keterbatasan. Pemilihan angle kamera dan fokus pemberitaan dari seorang wartawan yang bersifat subyektif pun ikut andil, sehingga berita tidak bisa menginformasikan realitas yang sebenarnya. Hal ini disebabkan adanya keterbatasan waktu, pelaporan media (khususnya pemberitaan melalui televisi) selalu memberikan sedikit informasi. Pemirsa harus bersedia membaca lebih lanjut untuk menemukan informasi yang menempatkan berita televisi dalam konteksnya.

    Konteks berbeda dengan apa yang tampak. Konteks lawannya adalah teks (teks tidak terbatas pada tulisan tetapi dapat diperlebar maknanya pada apa saja yang tampak). Teks memberikan informasi yang bersifat denotatif, sedangkan konteks merupakan pemahaman dari makna teks yang bersifat konotatif. Pemahaman konotatif setiap orang berbeda-beda dari makna denotatifnya karena dipengaruhi latar belakang, pendidikan, dan sebagainya.

    Sebagai contoh, sebuah berita tentang seorang selebriti memukuli pacarnya. Ini adalah teks. Maka, pemirsa yang tekstual akan melihat informasi ini sebagai sebuah informasi “telanjang”. Lantas dinilai secara “hitam atau putih”. Tetapi, pemirsa yang kontekstual tidak berhenti pada informasi yang tampak, akan tetapi akan mencari lebih dalam: kenapa peristiwa itu terjadi, kronologi peristiwa, cara untuk mencegah hal itu, dan apa yang harus dilakukan ketika menghadapi hal tersebut, adalah informasi yang dapat menempatkan berita ke dalam konteks.

    2. Opinion: Pisahkan Pendapat dari Fakta!

    Pendapat dari narasumber dalam berita atau opini dalam sebuah artikel bukan sebagai fakta. Tulisan wartawan atau opini penulis sebetulnya menulis sesuai dengan cara pandang dirinya, pemahaman dirinya, bukan fakta yang sesungguhnya. Fakta tidak berada dalam persepsi manusia, melainkan berada di luar persepsi manusia. Setiap orang berhak untuk mengklaim bahwa pendapat dirinya mewakili fakta, tetapi fakta tidak bisa diwakili oleh siapapun. Fakta berdiri sendiri. Opini manusia sesungguhnya semuanya bersifat subyektif. Persepsi manusia terhadap api tidak bisa menggambarkan api yang sesungguhnya, karena api persepsi tidak membakar sedangkan api sejati sifatnya membakar.

    Meskipun pendapat tidak bisa seratus persen mewakili fakta, tetapi ada cara agar pendapat sedikitnya mewakili meskipun tidak benar-benar mewakili. Bagaimana caranya? Yaitu dengan metode hermeneutik. Metode hertemenutik adalah metode untuk menjembatani agar opini dapat berbasis pada fakta, yaitu dengan narasi yang lengkap, angka statistik dan tidak sepotong-sepotong. Tulisan berita umumnya tidak bisa menggunakan metode ini. Yang bisa adalah tulisan feature karena kaya akan deskripsi dari relung-relung terdalam dari realitas. Selain itu, harus disertai bukti yang digunakan dan dengan cara yang baik serta logis. Gambar-gambar dapat dijadikan alat bukti.

    3. Perspective: Lihatlah Cara Pandang Pemberitaannya!

    “Pemerintah telah gagal dalam menjamin keamanan negara, ada apa dengan negara ini…hhhhhhh”.

    Kalimat tersebut sering didengar di editorial salah satu media di Indonesia, karena editorialnya dibacakan dengan illustrasi yang dianggap mewakili dari narasinya di televisi. Kalimat tersebut menunjukkan cara pandang media yang sangat subyektif. Kalimat tersebut bersifat emosional, bukan memberitakan. Media dengannya telah melakukan penilaian bahkan mengadili. Padahal media tidak punya kapasitas untuk menilai dan mengadili. Media adalah perantara (medium), dengannya cara pandang media harus independen.

    Perspektif media tidak boleh tumpang-tindih dengan kepentingan. Dengan alasan  kendala waktu dan ruang maka media akan menentukan cerita mana yang mendapatkan ruang yang paling banyak, dan cerita mana yang diedit atau bahkan dipetieskan. Pertimbangan untuk melakukan tersebut harus dari perspektif publik bukan dari perspektif pemilik modal.

    4. Sources: Bandingkan Berita dengan Banyak Sumber!

    Media memiliki berbagai macam aliran, jika fokus hanya di satu media maka perspektif pembaca digiring untuk sama dengan perspektif yang digunakan oleh media. Berita mengenai satu kasus bisa berbeda penyampaiannya oleh media yang berbeda pula. Maka, salah satu cara untuk memahami berita yang sebenarnya adalah dengan memahami dari berbagai sumber. Teknik trianggulasi dapat digunakan. Trianggulasi adalah pembuktian informasi melalui berbagai sumber media atau dengan berbagai sumber opini.

 

Source : **[harja saputra]

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar