Bagaimana Cara Menganalisis Berita?

000

Informasi yang diperoleh dari suatu berita hinggap di memori otak kita bersifat memory jangka pendek (Short Term Memory / STM). Namun berita juga dapat menjadi memori jangka panjang jika berita yang menginformasikan suatu peristiwa dilakukan dengan frekuensi tinggi, terus diulang-ulang dengan durasi yang tinggi pula.

Berita menjadi ingatan jangka panjang pemirsa biasanya menyangkut berbagai “isu-isu yang tidak biasa”  (uncommon issue) sehingga menjadi perhatian publik. Contoh nyatanya adalah berita-berita mengenai kasus Nazaruddin atau berita kecelakaan Saipul Jamil saat ini. Frekuensi pemberitaan tentang kasus ini sangat tinggi, bahkan hingga mencapai titik jenuh. Banyak orang yang merasa jenuh dengan berita itu-itu saja yang diangkat media.

Untuk menilai kebenaran atau validitas suatu berita tidaklah mudah, karena banyak hal yang mendasari munculnya suatu berita. Suzanne Pitner (pengajar dan aktivis media) pernah menulis artikel berjudul “How to Analyze the News“. Ia memberikan beberapa tips untuk menganalisis berita, yang ia singkat dengan istilah strategi COPS (Context, Opinion, Perspective, Sources):

  1. Context: Kenali Berita sesuai Konteksnya!

    Berita bersifat menginformasikan realitas yang bersifat sepotong-sepotong. Realitas diambil melalui kamera atau mata wartawan dan diinformasikan ke publik. Kamera dan mata wartawan tentunya memiliki keterbatasan. Pemilihan angle kamera dan fokus pemberitaan dari seorang wartawan yang bersifat subyektif pun ikut andil, sehingga berita tidak bisa menginformasikan realitas yang sebenarnya. Hal ini disebabkan adanya keterbatasan waktu, pelaporan media (khususnya pemberitaan melalui televisi) selalu memberikan sedikit informasi. Pemirsa harus bersedia membaca lebih lanjut untuk menemukan informasi yang menempatkan berita televisi dalam konteksnya.

    Konteks berbeda dengan apa yang tampak. Konteks lawannya adalah teks (teks tidak terbatas pada tulisan tetapi dapat diperlebar maknanya pada apa saja yang tampak). Teks memberikan informasi yang bersifat denotatif, sedangkan konteks merupakan pemahaman dari makna teks yang bersifat konotatif. Pemahaman konotatif setiap orang berbeda-beda dari makna denotatifnya karena dipengaruhi latar belakang, pendidikan, dan sebagainya.

    Sebagai contoh, sebuah berita tentang seorang selebriti memukuli pacarnya. Ini adalah teks. Maka, pemirsa yang tekstual akan melihat informasi ini sebagai sebuah informasi “telanjang”. Lantas dinilai secara “hitam atau putih”. Tetapi, pemirsa yang kontekstual tidak berhenti pada informasi yang tampak, akan tetapi akan mencari lebih dalam: kenapa peristiwa itu terjadi, kronologi peristiwa, cara untuk mencegah hal itu, dan apa yang harus dilakukan ketika menghadapi hal tersebut, adalah informasi yang dapat menempatkan berita ke dalam konteks.

    2. Opinion: Pisahkan Pendapat dari Fakta!

    Pendapat dari narasumber dalam berita atau opini dalam sebuah artikel bukan sebagai fakta. Tulisan wartawan atau opini penulis sebetulnya menulis sesuai dengan cara pandang dirinya, pemahaman dirinya, bukan fakta yang sesungguhnya. Fakta tidak berada dalam persepsi manusia, melainkan berada di luar persepsi manusia. Setiap orang berhak untuk mengklaim bahwa pendapat dirinya mewakili fakta, tetapi fakta tidak bisa diwakili oleh siapapun. Fakta berdiri sendiri. Opini manusia sesungguhnya semuanya bersifat subyektif. Persepsi manusia terhadap api tidak bisa menggambarkan api yang sesungguhnya, karena api persepsi tidak membakar sedangkan api sejati sifatnya membakar.

    Meskipun pendapat tidak bisa seratus persen mewakili fakta, tetapi ada cara agar pendapat sedikitnya mewakili meskipun tidak benar-benar mewakili. Bagaimana caranya? Yaitu dengan metode hermeneutik. Metode hertemenutik adalah metode untuk menjembatani agar opini dapat berbasis pada fakta, yaitu dengan narasi yang lengkap, angka statistik dan tidak sepotong-sepotong. Tulisan berita umumnya tidak bisa menggunakan metode ini. Yang bisa adalah tulisan feature karena kaya akan deskripsi dari relung-relung terdalam dari realitas. Selain itu, harus disertai bukti yang digunakan dan dengan cara yang baik serta logis. Gambar-gambar dapat dijadikan alat bukti.

    3. Perspective: Lihatlah Cara Pandang Pemberitaannya!

    “Pemerintah telah gagal dalam menjamin keamanan negara, ada apa dengan negara ini…hhhhhhh”.

    Kalimat tersebut sering didengar di editorial salah satu media di Indonesia, karena editorialnya dibacakan dengan illustrasi yang dianggap mewakili dari narasinya di televisi. Kalimat tersebut menunjukkan cara pandang media yang sangat subyektif. Kalimat tersebut bersifat emosional, bukan memberitakan. Media dengannya telah melakukan penilaian bahkan mengadili. Padahal media tidak punya kapasitas untuk menilai dan mengadili. Media adalah perantara (medium), dengannya cara pandang media harus independen.

    Perspektif media tidak boleh tumpang-tindih dengan kepentingan. Dengan alasan  kendala waktu dan ruang maka media akan menentukan cerita mana yang mendapatkan ruang yang paling banyak, dan cerita mana yang diedit atau bahkan dipetieskan. Pertimbangan untuk melakukan tersebut harus dari perspektif publik bukan dari perspektif pemilik modal.

    4. Sources: Bandingkan Berita dengan Banyak Sumber!

    Media memiliki berbagai macam aliran, jika fokus hanya di satu media maka perspektif pembaca digiring untuk sama dengan perspektif yang digunakan oleh media. Berita mengenai satu kasus bisa berbeda penyampaiannya oleh media yang berbeda pula. Maka, salah satu cara untuk memahami berita yang sebenarnya adalah dengan memahami dari berbagai sumber. Teknik trianggulasi dapat digunakan. Trianggulasi adalah pembuktian informasi melalui berbagai sumber media atau dengan berbagai sumber opini.

 

Source : **[harja saputra]

 

Dasar-dasar Jurnalisitik

Gambar

Pesatnya kemajuan media informasi dewasa ini cukup memberikan kemajuan yang signifikan. Media cetak maupun elektronik pun saling bersaing kecepatan sehingga tidak ayal bila si pemburu berita dituntut kreativitasnya dalam penyampaian informasi. Penguasaan dasar-dasar pengetahuan jurnalistik merupakan modal yang amat penting manakala kita terjun di dunia ini. Keberadaan media tidak lagi sebatas penyampai informasi yang aktual kepada masyarakat, tapi media juga mempunyai tanggung jawab yang berat dalam menampilkan fakta-fakta untuk selalu bertindak objektif dalam setiap pemberitaannya.

Apa Itu Jurnalistik?

Menurut Kris Budiman, jurnalistik (journalistiek, Belanda) bisa dibatasi secara singkat sebagai kegiatan penyiapan, penulisan, penyuntingan, dan penyampaian berita kepada khalayak melalui saluran media tertentu. Jurnalistik mencakup kegiatan dari peliputan sampai kepada penyebarannya kepada masyarakat. Sebelumnya, jurnalistik dalam pengertian sempit disebut juga dengan publikasi secara cetak. Dewasa ini pengertian tersebut tidak hanya sebatas melalui media cetak seperti surat kabar, majalah, dsb., namun meluas menjadi media elektronik seperti radio atau televisi. Berdasarkan media yang digunakan meliputi jurnalistik cetak (print journalism), elektronik (electronic journalism). Akhir-akhir ini juga telah berkembang jurnalistik secara tersambung (online journalism). Continue reading “Dasar-dasar Jurnalisitik”

URGENSI SOSIALISASI DAN EDUKASI UU ITE

Bagi pribadi Prita Mulyasari dan keluarga, kasus yang dialaminya saat ini tentu dipahamiemailIcon sebagai musibah yang sama sekali tidak diharapkan kedatangannya. Namun, dari sudut pandang kehidupan berbangsa , kasus Prita telah memberikan pelajaran sangat berharga di berbagai bidang. Berdasarkan pemberitaan di media massa, terlihat adanya sejumlah permasalahan yang layak dicermati dan dijadikan bahan kajian yang lebih mendalam.

Adapun permasalahan tersebut, antara lain (1) Prita adalah korban dari praktik pelayanan kesehatan yang kurang memperhatikan hak-hak konsumen. (2) Mengeluhkan pelayanan yang diterima sesungguhnya merupakan hak komunikasi yang dijamin oleh konstitusi (pasal 28F UUD 45), dan peraturan dibawahnya . (3) Curhat melalui dunia maya dilakukan Prita sebagai pilihan atas buntunya komunikasi langsung dengan rumah sakit, serta tidak dimaksudkan untuk mencemarkan nama baik pihak lain. Curhat sebagai bentuk ungkapan pelayanan publik yang buruk tida melanggar Pasal 27 ayat 3 Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). (4) Prita tampaknya tidak mengetahui bahwa e-mail memiliki sifat sulit untuk dikendalikan sehingga tidak ada jaminan mengenai ruang lingkup peredarannya, karena belum ada aturan main yang dapat memaksa teman-teman Prita untuk tidak mengedarkan e-mail tersebut lewat miling-list atau kepada orang lain.

Disamping keempat butir di atas, dua permasalahan lain yang tampak menonjol ke permukaan, yaitu (1) Prita mengakui merasa belum tahu apalagi memahami tentang UU ITE, dan (2) Adanya norma yang sesungguhnya berbeda antara berkomunikasi di dunia maya dengan melalui media pers, terutama dalam hal penyampaian hak jawab atau sanggahan atas suatu pemberitaan. Continue reading “URGENSI SOSIALISASI DAN EDUKASI UU ITE”

Televisi sebagai Media Pelestarian Seni Pertunjukan Tradisional

Dunia ini dengan segala isi dan peristiwanya tidak bisa melepaskan diri dari kaitannya dengan media massa; demikian wayang-kulit2]juga sebaliknya, media massa tidak bisa melepaskan diri dari dunia dengan segala isi dan peristiwanya. Hal ini disebabkan karena hubungan antara keduanya sangatlah erat sehingga menjadi saling bergantung dan saling membutuhkan. Segala isi dan peristiwa yang ada di dunia menjadi sumber informasi bagi media massa.

Media massa mempunyai tugas dan kewajiban–selain menjadi sarana dan prasarana komunikasi–untuk mengakomodasi segala jenis isi dunia dan peristiwa-peristiwa di dunia ini melalui pemberitaan atau publikasinya dalam aneka wujud (berita, artikel, laporan penelitian, dan lain sebagainya)–dari yang kurang menarik sampai yang sangat menarik, dari yang tidak menyenangkan sampai yang sangat menyenangkan – tanpa ada batasan kurun waktu.

Oleh karenanya, dalam komunikasi melalui media massa, media massa dan manusia mempunyai hubungan saling ketergantungan dan saling membutuhkan karena masing-masing saling mempunyai kepentingan, masing-masing saling memerlukan. Media massa membutuhkan berita dan informasi untuk publikasinya baik untuk kepentingan media itu sendiri maupun untuk kepentingan orang atau institusi lainnya; di lain pihak, manusia membutuhkan adanya pemberitaan, publikasi untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Continue reading “Televisi sebagai Media Pelestarian Seni Pertunjukan Tradisional”

Kontes Idola dan Efek Jangka Panjang

Tulisan ini saya sampaikan sebagai bentuk apresiasi terhadap tayangan-tayangan televisi yang melibatkan anak-anak seumuran Sekolah Dasar sebagai obyek Ekploitasi Media, dan tulisan saya ini untuk memenuhi tugas sebagai pengganti Ujian Semester Ganjil Mata Kuliah Riset Media Sekolah Tinggi Multi Media “MMTC” Yogyakarta.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa media televisi bagai dua mata pisau, disatu sisi pisau memberi manfaat dan di satu sisi pisau membawa bencana, tinggal kita memanfaatkannya. Perkembangan televisi dan beragam kontennya menerpa kehidupan kita, bila kita telaah hampir 15 tahun televisi membentuk karakter hidup dan sistem lingkungan. Anak-anak usia balita hingga remaja umumnya tidak pernah lepas dari media televise, celakanya mereka menganggap kehidupan di televisi sama dengan kehidupann nyata. Sudah berapa banyak terjadi kejahatan anak-anak yang disebabkan tayangan televisi, sebagi contoh era Film Smack Down yang ditiru anak-anak hingga banyak korban karena temannya, yang terinspirasi film tersebut. 

Lantas bagaimana halnya, dengan kontes Idola Cilik yang diadakan sejumlah Stasiun TV Swasta di tanah air tercinta ini, sepertinya sudah diterima masyarakat luas, terbukti dengan peran serta aktif dengan memberikan sumbangan dan dukungan berupa SMS kepada kontestan, menjadi trend budaya kini. Acara kontes-kontesan semacam ini berpengaruh luas. Acara ini punya banyak penggemar, dan punya daya dorong yang besar agar sang penggemar menirunya.

Bila kita amati sekilas, acara tiruan Akademi Fantasy Indonesia (AFI) ini cukup menghibur. Ketika di panggung, ada anak yang lupa ditengah-tengah ceramahnya. Bahkan ada yang tidak berbicara sama sekali karena kelewat nervous. Walaupun, banyak juga yang mampu membawakannya dengan gemilang. Kepolosan anak-anak ini jadi tontonan. Mampu membuat orang tua tersenyum geli sekaligus bangga.

Sepintas lalu, acara kontes-kontesan seperti ini membawa efek yang positif. Acara ini melatih anak berani tampil di muka umum, ajang untuk menyalurkan bakat. Coba kita lihat apa yang mesti dilakukan anak untuk tampil di Pemilihan Da’i Cilik (Pildacil), mereka berusaha menghafal ayat Al-Qur’an, Hadist-Hadist atau doa-doa. Bukankah ini positif? Ya efek-efek positif itu memang ada. Tapi tidak berlebihan kiranya jika kita katakan bahwa efek-efek positif yang ada tidak sebanding dengan dampak negatifnya. Benar, efek positif itu hanya ada di permukaanya saja. Jika kita selami secara obyektif, acara semacam ini merusak mental anak-anak di kemudian hari.

Dimana Efek Negatifnya?

Pengamatan ini, saya tujukan untuk kontes-kontes idola yang diikuti oleh anak seumuran SD. Kontes idola yang saya maksudkan adalah kontes-kontes seperti AFI Junior, Idola Cilik, bahkan Pildacil. Mengapa fokus saya lebih pada kontes-kontes yang diikuti anak-anak seumuran SD dan bukan, kontes-kontes yang diikuti oleh peserta yang lebih dewasa? Saya jawab, karena usia SD adalah usia-usia penting. Usia-usia yang akan sangat menentukan kehidupan selanjutnya dari seorang anak manusia. Continue reading “Kontes Idola dan Efek Jangka Panjang”

Kehadiran Media dan Dampaknya

Perkembangan teknologi telah membawa kita pada era komunikasi massa sejak ditemukannya mesin cetak Guttenberg efefyang memungkinkan diproduksinya buku-buku secara massal sampai mencapai puncaknya setelah ditemukannya internet. Penemuan Guttenberg mendorong terbitnya surat kabar pertama. Setelah revolusi industri dan teknologi, listrik yang memacu energi pabrik dan transportasi, melandasi muncul dan berkembangnya radio, film, dan televisi yang pada perkembangan selanjutnya menciptakan teknologi informasi yang multimedia seperti jaringan internet.

Sejak tahun 1964 komunikasi massa telah mencapai publik dunia secara langsung dan serentak. Melalui satelit komunikasi sekarang ini kita dimungkinkan untuk menyampaikan informasi (pesan) berupa data, gambar, maupun suara kepada jutaan manusia di seluruh dunia secara serentak. Perkembangan teknologi komunikasi/informasi yang bergerak cepat membawa kita menuju era masyarakat informasi, dimana hampir segala aspek kehidupan dipengaruhi oleh keberadaan media yang semakin jauh memasuki ruang kehidupan manusia.

Wilbur Schramm menyatakan bahwa luas sempitnya ruang kehidupan seseorang, yang awalnya ditentukan pada kemampuan baca tulis, selanjutnya ditentukan oleh seberapa banyak ia bergaul dengan media massa. Artinya media memiliki pengaruh yang signifikan pada kehidupan manusia.

Sejauh mana dampak media terhadap khalayaknya memang masih menjadi bahan perdebatan. Elisabeth Noelle-Neumann adalah salah satu sarjana yang menganut konsep efek perkasa media massa. Ia menyebutkan bahwa media massa bersifat ubiquity, artinya serba ada. Media massa mampu mendominasi lingkungan informasi dan berada di mana-mana. Karena sifatnya yang serba ada, agak sulit orang menghindari pesan media massa. Sementara Richard T. La Pierre berpendapat bahwa media massa baru akan benar-benar berpengaruh jika sebelumnya ia berhasil menjalin kedekatan dengan khalayaknya.

Untuk itu diperlukan pendekatan lain dalam melihat efek (dampak) media massa. Selain berkaitan dengan pesan dan media itu sendiri, menurut Steven M. Chaffee, pendekatan kedua ialah melihat jenis perubahan yang terjadi pada diri khalayak komunikasi massa – penerimaan informasi, perubahan perasaan atau sikap, dan perubahan perilaku; atau dengan istilah lain, perubahan kognitif, afektif, dan behavioral. Pendekatan ketiga meninjau satuan observasi yang dikenai efek komunikasi massa – individu, kelompok, organisasi, masyarakat, atau bangsa. Continue reading “Kehadiran Media dan Dampaknya”

PENGGUNAAN DAN EFEK MEDIA

Melalui interaksi dengan media dan observasi terhadap orang lain, seseorang belajar tentang ekpektasi tentang mass_mediakonsekuensi dari penggunaan media yang membentuk tingkah laku mereka.  Hasil positif seperti belajar hal baru, diversi dan belajar hal baru.  Seseorang dengan sendirinya akan dapat membedakan mana yang baik dan buruk, serta melakukan suatu aksi untuk menghindari diri mereka dari media yang merugikan dan membosankan.

Khalayak membaca dan menginterpretasikan teks yang disajikan oleh media melalui cara yang aktif.  Beberapa khalayak mungkin menerima makna yang diberikan oleh media.  Tetapi beberapa khalayak lainnya menggunakan ide dan pengalaman mereka untuk menegosiasikan makna mereka sendiri,  Bahkan beberapa dari mereka menentang makna yang ingin disampaikan media.  Oleh karenanya, khalayak dianggap sebagai penonton yang aktif, bukan pasif.

Social presence atau kehadiran sosial adalah derajat dimana komunikasi melalui media memiliki tingkat sosial yang sama dengan komunikasi tatap muka.  Efek media merupakan dampak dari kehadiran sosial yang dimiliki media dimana menyebabkan perubahan di pengetahuan, sikap dan tingkah laku kita yang merupakan hasil dari menggunakan media. Continue reading “PENGGUNAAN DAN EFEK MEDIA”