Pelestarian Budaya

wayang-kulit21Direktur Kelembagaan Komunikasi Sosial Depkominfo Dr. Udi Rosadi. MS. mengemukakan bagaimana kesenian tradisional/ pertunjukan rakyat yang hidup di masyarakat bisa didayagunakan dalam konteks penyebarluasan informasi. Karena sampai saat ini masih terjadi perdebatan bahwa seni pertunjukan tersebut harus pakai pakem, sehingga ketika dimuati pesan-pesan ada kekhawatiran akan mengancam hakekat atau isi dari pertunjukan rakyat sendiri. Hal demikian disampaikan Dr. Udi Rosadi MS pada pengantar Sarasehan Pengembangan Media Tradisional Sabtu pagi (31/5) di Hotel Cakra Kembang Jalan Kaliurang, Sleman, Yogyakarta yang diselenggarakan Kementerian Menkominfo bekerjasama dengan Panitia Daerah Provinsi DIY Peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional tahun 2008. “Seni Pertunjukan Tradisional harus mempunyai nilai-nilai atau pesan-pesan dalam pertunjukan tersebut. Pesan dan nilai tersebut bisa saja nilai pribadi, nilai individu, nilai kelompok kecil, nilai masyarakat sampai representasi nilai negara. Agar ada nilai hubungan/kepentingan rakyat dengan negara bagaimana seni pertunjukan rakyat ini bisa digunakan untuk itu, tetapi tidak sama sekali mempolitisir untuk intervensi dalam kepentingan-kepentingan politik atau merusak pakem pertunjukan tradisional itu sendiri”, kata Udi Rosadi Sementara itu Dr. Ibnu Hamad praktisi dari Universitas Indonesia menyampaikan makalah dengan judul “Memahami Media Pertunjukan Rakyat” dalam sarasehan tersebut menyatakan bahwa untuk memahami Media Pertunjukan Rakyat perlu dibicarakan dahulu Media Tradisionalnya, Sedangkan untuk memahami Media Tradisional perlu dibicarakan dahulu seni Pertunjukan Rakyat karena keberadaan dan perkembangan media tradisional tak dapat dilepaskan dari kehidupan seni tradisional. Kehidupan media pertunjukan rakyat sebagai media tradisional menurut Ibnu Hamad sangat bergantung pada eksistensi seni pertunjukan rakyat itu. “Sekalipun terjadi globalisasi, yang dicirikan dengan perkembangan ICT, media tradisional tetap potensial, karena pada dasarnya penggunaan tekhnologi memiliki asumsi yang sesuai dengan kebutuhan”, kata Dr. Ibnu Hamad, Praktisi dari Universitas Indonesia tersebut . Sehubungan dengan hal tersebut dalam mengemas seni pertunjukan rakyat harus kreatif dengan memanfaatkan unsur-unsur kesenian rakyat seperti cerita/legenda rakyat sebagai naskah cerita, Nyanyian rakyat sebagai unsur hiburan, tarian rakyat sebagai daya tarik pertunjukan, banyolan untuk menyegarkan suasana pertunjukan dan pakaian adat untuk kostum. “Dan yang tak kalah pentingnya dalam pertunjukan rakyat harus tetap memperhatikan etika dan estetika, karenanya pelaksanaannya harus diserahkan kepada seniman setempat, sebab dengan demikian media pertunjukan rakyat yang terbentuk bukan saja bermanfaat tetapi juga indah”, tambah Dr. Ibnu Hamad. Sedangkan Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Prof. Drs. Soeprapto Soedjono, MFA.,PhD. mengemukakan bahwa bentuk-bentuk kesenian rakyat yang selama ini tumbuh berkembang dan dilestarikan oleh masyarakat merupakan bagian dari bentuk-bentuk warisan budaya nenek moyang masa lampau. Kesenian ini diasumsikan masih lestari sampai kini tidak saja karena dukungan para pelaku dan kerabatnya saja tetapi juga dukungan penonton yang terdiri dari pemerhati dan penikmat seninya. Bahkan menurut Rektor ISI dapat dikatakan juga karena adanya campur tangan penguasa dalam berbagai bentuk aturan normatif, penyediaan fasilitas dan sarana kebijakan sosial politis bernegara yang diberlakukan bagi tujuan pelestarian dan tujuan komersial sebagai komoditas pariwisata dan tidak memungkiri bahwa banyak dari jenis seni pertunjukan rakyat tradisional yang sudah semakin langka ini dikhawatirkan sudah tidak eksis lagi alias sudah punah. Usai paparan dari kedua nara sumber dilanjutkan dengan dialog dan tanya jawab dengan peserta sarasehan yang berasal dari pelaku seni, pemerhati serta tokoh seni yang beasal dari DIY, Jateng, Jabar, Jatim, DKI, dan Bali. Sumber: Bidang Humas BID Prov. DIY.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s